Resume B.I dan TPI Pertemuan 1-6

Diposting oleh : rizky ae | Dirilis : 21:42:00 | Series :
Resume BI dan TPI Pertemuan 1-6

Rizky Yanwinarto 
10390100023

Pertemuan 1

Konsep Dasar Bahasa Indonesia

Dua cara berkomunikasi: 

1. Secara Verbal
    Dilakukan dengan menggunakan alat / media bahasa:
    • Lisan.
    • Tulis.

2. Secara Non verbal
    Dilakukan dengan menggunakan media selain bahasa:
    • Simbol (tanda lalin).
    • Isyarat (lambaian tangan).
    • Kode (morse).
    • Bunyi-bunyian (sirine, kentongan).


FUNGSI BAHASA

Bahasa berfungsi sebagai alat :
·         Berkomunikasi
·         Mengekspresikan diri.
·         Berintegrasi & beradaptasi social.
·         Kontrol sosial.


RAGAM DAN LARAS BAHASA

RAGAM BAHASA

Ragam bahasa yaitu variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa.

Ragam bahasa dapat dibedakan menjadi  5 :

Berdasarkan media Pengantarnya :

·         Ragam lisan.
·         Ragam tulis.

Berdasarkan situasi pemakaiannnya :

·         Ragam formal.
·         Ragam semiformal.
·         Ragam nonformal.


Beda ragam lisan dengan ragam tulis















Contoh:

Ragam formal :
Saya, Anda, Saudara, Bapak, Ibu, Saudara.

Ragam semiformal :
Aku, Kamu, Bung, Mas, Dik, Mbak.

Ragam nonformal :
Gue, Ane, Lu, Neng, Situ.



Pemakaian Ragam Nonformal & Formal














Ragam Formal / Baku

Merupakan ragam tinggi, bersifat formal.

Memiliki sifat:

Kemantapan dinamisà aturan/kaidah yg tetap dan seragam.

Cendikiaà logis, masuk akal.


LARAS BAHASA

Laras bahasa yaitu kesesuaian bahasa yang dipakaidengan fungsi pemakai.bahasa dengan ciri tertentu yang dipakai (difungsikan) untuk keperluan tertentu.


Macam-macam laras bahasa:

·         Laras ilmiah.
·         Laras sastra (puisi, cerpen, novel,dll.)
·         Laras jurnalistik (berita, editorial,iklan, dll.)
·         Laras hokum.
·         Laras kedokteran.
·         dll.




Contoh penerapan bahasa :

























 
Ciri Bahasa Indonesia dalam Penulisan Karya Ilmiah:

1.      Menggunakan ragam formal.

2.      Menggunakan kalimat efektif, ciri-ciri:
·         Bentuk gramatikal singkat.
·         Menghindari bentuk berlebihan.
·         Ada kesepadanan antara struktur gramatik dengan alur pikir.

3.      Menghindari makna ambigu (ganda).


4.      Menggunakan kata / istilah yang bermakna lugas à menghindari makna kias.

5.      Menghindari penonjolan persona untuk menjaga objektivitas isi tulisan.

6.      Ada keselarasan/keruntutan antar proposisi dan antar alinea.


BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

Bahasa yang baik apabila maknanya dapat dipahami oleh komunikan dan ragamnya sudah sesuai dengan situasi.

Bahasa yang benar adalah bahasa dengan ragam formal yang mengikuti kaidah baku

Bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi pemakainya serta tidak menyimpang dari kaidah yang telah dibakukan

Contoh:

·         Kelas ini mesti dibikin bersih.
·         Buku itu saya sudah baca.
·         Rumahnya paman habis terbakar
·         Bagi yang malas belajar jangan masuk kelas ini!
·         Ini hari mati lampu
·         Tolong hidupkan robot itu!
·         Dia memang pengrusak rumah itu
·         Menjelang lebaran Dina membeli sebuah baju


Pertemuan 2
TATA EJAAN DAN PILIHAN KATA

EJAAN dan MENGEJA
     Ejaan ≠ Mengeja

Seperangkat aturan/kaidah pelambangan bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan dan penulisannya dalam suatu bahasa.

Mengeja : kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata.

Ejaan = rambu-rambu yang harus dipatuhi.

Mengeja = pelafalan sesuai rambu yang ditentukan.


Ruang Lingkup EYD

1. Pemakaian huruf
2. Penulisan huruf
3. Penulisan kata
4. Penulisan unsur serapan
5. Pemakaian tanda baca (pungtuasi)


Pemakaian Huruf

Membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa :
~ Abjad
~ Vokal
~  Konsonan
 ~ Pemenggalan
~ Nama diri

Pemakaian Huruf

~ Abjad (a,b, c,… z -- A, B, C, … Z)

~ Vokal (a, i, u, e, o -- A, I, U,E, O)

Diftong (gabungan dua vokal) à ai, au, oi à menciptakan bunyi yang berbeda dengan lafal
aslinya.

Contoh:
saudara, bantai (bantay), kacau (kacaw), amboi (amboy) àdiftong mulai, namai, semua à bukan diftong (diucapkan ai)
~ Ramai
~ Pulau
~ Limau
~ Pandai
~ warnai
~ semua
~ Bau


Pemakaian Huruf

~ Konsonan (b, c, d, … -- B, C, D,…)
Diagraf (gabungan konsonan) à kh, ng, ny, sy

Contoh:
khusus, ngilu, anyam, syair

Pemakaian Huruf
~ Pemenggalan
1. Pemenggalan kata dasar
a. Jika di tengah kata ada dua huruf vokal berurutan
contoh: di-a, do-a, ta-at

b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan
contoh: ta-bu, ka-wan, ca-tur

c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan berurutan
contoh: ap-ril, swas-ta, han-dal

d. Jika di tengah kata ada tiga atau lebih huruf konsonan
contoh: ab-sor-bsi, kon-klu-si, in-struk-si


Pemakaian Huruf
~  Pemenggalan
2. Pemenggalan imbuhan
awalan dan akhiran, yang ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal:
contoh: ba-ca-lah, me-la-ri-kan, pra-sa-ra-na


Pemakaian Huruf
~ Pemenggalan
3. Pemenggalan kata gabungan
kata yang terdiri lebih dari satu unsur, dapat dipenggal:
contoh: bio-data atau bio-da-ta, intro-speksi atau in-tro-spek-si


Pemakaian Huruf
~ Pemenggalan
4. Pemenggalan khusus
kata yang mengandung sisipan (-el, -er, -em, -in), dapat dipenggal:


Pemakaian Huruf
~ Nama diri
Penulisan nama diri harus mengikuti EYD, kecuali ada pertimbangan khusus.
contoh:
1. Pemakaian biasa
Rumahnya di Jalan Pajajaran No. 5.
Ia berkantor di Jalan Budi Utomo.

2. Pemakaian dengan pertimbangan khusus
Ayahku dosen Universitas Padjadjaran Bandung
Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908


Pemakaian Huruf
~ Nama diri
Untuk penulisan kata biasa bukan nama diri, untuk unsur kimia x ditulis seperti apa adanya, selain itu x diganti ks.
contoh:
1. Unsur kimia, ditulis apa adanya
xenon (unsur kimia), Sinar x (istilah ilmu pengetahuan)
x1, x2, x- (istilah dalam matematika), satuan volt, watt

2. Kata-kata biasa bukan nama diri
export ditulis ekspor, extra ditulis ekstra,
complex ditulis kompleks, taxi ditulis taksi


Pemakaian Huruf
~ Nama diri
Penulisan nama orang berlaku ketentuan khusus, yaitu mengikuti kebiasaan orang yang punya nam meskipun menyalahi EYD.
contoh:
Judi          Yudi           Yudhi
Judie        Yoedie        Yudhie
Judy         Yudy          Yoedhy
Judhy      Yoedy         Yoedhie


Penulisan Huruf
~ Huruf Kapital
1.      Dipakai untuk huruf pertama awal kalimat.
2.      Dipakai untuk huruf pertama petikan langsung.
3.      Dipakai untuk huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan Tuhan (Yang Mahakuasa, Quran, Weda, hamba-Mu,..).
4.      Dipakai untuk huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama (Raden …, Haji …,Nabi…, dll.).
5.      Dipakai untuk huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang/pengganti nama orang/instansi/nama tempat (Presiden Yudoyono, Menteri Pertanian, Gubernur Bali).
6.      Dipakai untuk huruf pertama unsur nama orang (Budi Luhur)
7.      Dipakai untuk huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa (Melayu,Tionghoa,..)
Contoh: ….suku Bugis, …bahasa Jepang
keInggris-Inggrisan, menJawakan bahasa Indonesia àX
8.      Dipakai untuk huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan peristiwa
sejarah
9.      Dipakai untuk huruf pertama nama khas dalam geografi (Teluk Bayur, Gunung Semeru, Danau Toba, dll)
10.  Dipakai untuk huruf pertama semua unsur nama negara, badan/lembaga pemerintahan, ketatanegaraan,serta nama dokumen resmi (Undang-Undang Dasar 1945, Departemen Agama RI, dll)
Contoh: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia menurut undang-undang, perbuatan itu melanggar hukum.
11.  Dipakai untuk huruf pertama unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/lembaga (Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial)
12.  Dipakai untuk huruf pertama semua kata nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan.
13.  Dipakai untuk huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan (Bapak, Ibu, Paman, Kakak, dll.).
14.  Dipakai untuk huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan (Jend., Sdr., M.M., dll.)
15.  Dipakai untuk huruf pertama kata ganti anda.


Penulisan Huruf
~ Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar yang dikutip dalam karangan.( majalah Prisma, tabloid Nova)
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan tau mengkhususkan.(dia muka menipu tapi ditipu)
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk kata nama ilmiah atau ungkapan asing (nama ilmiah padi adalah oriza sativa)


Penulisan Kata
~ Kata Dasar
~ Kata Turunan
~ Bentuk Ulang
~ Gabungan Kata
~ Kata Depan di, ke, dari
~ Kata Sambung si, sang
~ Singkatan dan akronim
~ Angka & Lambang Bilangan


~ Kata Dasar
Ditulis sebagai satu kesatuan
Misal:
Buku itu sudah saya baca

Kalimat di atas dibentuk dari 5 kata dasar

~ Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya
Misal:
ketetapan
sentuhan
mempertanyakan

2. Kata dasar berupa gabungan kata, awalan/akhiran ditulis serangkai dengan kata dasar
Misal:
diberi tahu
bertanda tangan
beri tahukan

3. Kata dasar berupa gabungan kata, awalan dan akhiran sekaligus, ditulis serangkai dengan kata dasar.
Misal:
memberitahukan
ditandatangani
melipatgandakan


~ Bentuk Ulang
ditulis secara lengkap dengan mengunakan tanda hubung
Misal:
anak-anak
berjalan-jalan
porak-poranda


~ Gabungan Kata
1. Gabungan kata (kata majemuk), unsurunsurnya
ditulis terpisah.
Misal:
duta besar
kerja sama
meja tulis
luar biasa


2. Gabungan kata yang mungkin menimbulkan salah pengertian, ditulis dengan tanda hubung.
Misal:
alat pandang-dengar
anak-istri saya
orang-tua muda
kaki-tangan penguasa

3. Gabungan kata yang hubungannya sangat padu, ditulis serangkai (tidak dirasakan sbg dua kata)
Misal:
acapkali
apabila
bagaimana
barangkali


4. Salah satu unsur gabungan kata dipakai dalam kombinasi, ditulis serangkai (tidak dirasakan sbg dua kata)
Misal:
biokimia
antarkota
caturtungal
mahasiswa


~ Kata Ganti ku, kau, mu, nya
Kata ganti ku dan kau (dari aku dan engkau) ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya
Misal:
aku bawa
aku ambil
engkau bawa
engkau ambil


~ Kata Depan di, ke, dari
Kata depan di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali dalam gabungan kata yang dianggap sbg satu kata
Misal:
di sini               di mana            di rumah
ke luar              ke dalam          ke depan
kepada             daripada          kemari
Dia berasal      dari keluarga   terpelajar
Catatan: di sbg awalan ≠ di sbg kata depan


~ Kata Sambung si, sang
kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misal:
BENAR           SALAH
si kecil                        sikecil
si hitam                      sihitam
sang diktator             sangdiktator
sang raja                    sangraja



Penulisan kata
~ Partikel
a. Partikel lah dan kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya
Misal: pergilah …….
siapakah ……

b. Partikel per yang berarti demi atau tiap ditulis terpisah dengan kata yang mendahului atau mengikutinya
Misal: ….. masuk ruang satu per satu….
….. Rp 10.000 per meter ….


Partikel pun ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya
Misal: Hendak tidur pun aku …….
Satu kali pun dia belum pernah ….

Catatan:
Kelompok yang dianggap padu ditulis serangkai
Misal: Adapun sebab-sebab dari ….
Bagaimanapun juga akan lebih …


~ Singkatan dan akronim
a. Menyingkat satu kata pakai satu titik
Misal: nomor disingkat no.
halaman disingkat hal
.
b. Menyingkat dua kata pakai dua titik
Misal: atas nama disingkat a.n.
opere citato disingkat op.cit.

Catatan:
Singkatan nama dari huruf awal tanpa titik
Misal: Perseroan Terbatas disingkat PT
Amerika Serikat disingkat AS


c. Menyingkat tiga kata atau lebih pakai satu titik
Misal: dan kawan-kawan disingkat dkk.
yang akan datang disingkat yad.

Catatan:
Singkatan nama yang terbentuk dari gabungan huruf awal kata ditulis tanpa titik
Misal: BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
BPS (Biro Pusat Statistik)


d. Lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan dan mata uang tidak diikuti titik
Misal: sentimeter disingkat cm
kilovolt-ampere disingkat KVA


~ Singkatan dan Akronim
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata à ditulis semua
Misal:
FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia)


b. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf/suku kata dari deret kata à huruf awal
ditulis dengan huruf kapital
Misal:
Kadin (Kamar Dagang dan Industri)
Bappenas (Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional)


c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf/suku kata/huruf dan suku kata dari deret kata àsemuanya ditulis dengan huruf kecil tanpa titik
Misal:
radar (radio directing and ranging)
rapim (rapat pimpinan)
rudal (peluru kendali)


~ Angka & Lambang Bilangan
a. Dipakai untuk menyatakan lambang bilangan nomor.

b. Digunakan untuk menyatakan:
- ukuran panjang, berat, isi (3 ons, 4 hektar)
- satuan waktu (pukul 15.30)
- nilai uang (500 Yen)
- kuantitas (jumlah)


c. Dipakai untuk melambangkan nomor (jalan, rumah, apartemen, kamar pada alamat, dll.)
Jalan Kedung Baruk 98 Surabaya

d. Digunakan untuk menomori bagian karangan dan ayat dalam kitab suci, Undang-Undang, peraturan, dll.
Bab X, Pasal 5, halaman 300


~ Penulisan Unsur Serapan
~ Unsur serapan diambil dari bahasa daerah dan bahasa asing

~ Berdasar integritasnya, unsur serapan dibagi menjadi:
a. Belum sepenuhnya terserap kedalam bahasa Indonesia, pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Misal: reshuffle
shuttle cock


b. Pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia
Misal:
haemoglobin menjadi hemoglobin
authentic menjadi autentik
colonel menjadi kolonel
central menjadi sentral
technique menjadi teknik


~ Pemakaian Tanda Baca
1. Tanda titik (.)
2. Tanda koma (,)
3. Tanda titik koma (;)
4. Tanda titik dua (:)
5. Tanda hubung (-)
6. Tanda pisah ()à panjangnya dua kali anda hubung
7. Tanda elipis (…)
8. Tanda tanya (?)
9. Tanda seru (!)
10. Tanda kurung ((…))
11. Tanda kurung siku ((…))
12. Tanda petik (“…”)
13. Tanda petik tunggal ((‘…’))
14. Tanda garis miring (/)
15. Tanda penyingkat atau apostrop (‘)



PILIHAN KATA/DIKSI
DIKSI
~ Penggunaan kata dalam berbagai kesempatan harus memperhitungkan ketepatan dan kesesuaiannya.
~ Tepat --> makna, logika, maksud
~ Sesuai --> konteks social


~Fungsi Diksi
a.Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.

b.Membentuk gaya ekspresi yang tepat sehingga dapat diterima dengan tepat oleh pembaca.
~ komunikasi berjalan baik
~ Suasana tepat
~ Mencegah perbedaan tafsiran


~ Syarat ketepatan pemilihan kata
~Syarat ketepatan pemilihan kata :
~makna Denotatif & Konotatif
~Kata Umum & Khusus
~Kata Konkret dan Abstrak
~Pemakaian kata penghubung berpasangan


~ Makna Denotatif & Konotatif

~ Makna Denotatif :
Kata yang rujukannya tunggal atau makna kata yang sebenarnya, makna yang tidak
memberikan peluang pada pembaca untuk memberikan makna tambahan.
Contoh:
Wajahnya cantikàmenunjukkan paras/rupa
Adik menggambar segitigaàmenunjukkan
bentuk segitiga

~ Makna Konotatif:
Makna yang mengandung asosiasi-asosiasi tambahan, makna yang tidak sebenarnya
Contoh :
- Gol yang cantikàbola yang menggelinding
dan sangat susah untuk ditebak oleh kiper
- Wajah berbentuk segitigaàtidak runcing di ujung sisi-sisinya.
Hanya jika ditarik garis lurus akan terlihat seperti bentuk segitiga


Kata Umum & Khusus
~ Kata umum/subordinat : acuannya lebih luas
Contoh : Ikan àbermacam-macam jenis ikan

~ Kata khusus/hiponim : acuannya lebih khusus
Contoh : lele, tunaànama jenis ikan

~Semakin luas ruang lingkup suatu kata, maka makin umum sifatnya. Makin umum suatu kata, makin terbuka kemungkinan salah dalam pemaknaannya.

~Mis: berjalan pelan, lebih umum dibanding berjalan perlahan-lahan


~ Kata Konkret & Abstrak
~Kata konkret : kata yang mudah diserap pancaindra
Contoh: meja, rumah, air, cantik, hangat, wangi, suara

~Kata Abstrak: Tidak mudah diserap pancaindra
Contoh: keinginan, angan-angan, perdamaian, kebahagiaan


~ Kata Penghubung Berpasangan
~ Jarak antara Surabaya dengan Sidoarjo hanya 27 km.
~ Ia tidak memerlukan hadiah uang, melainkan barang
~ Baik anak ataupun cucu semua datang di pesta itu.
~ Bukan aku yang tidak mau, tetapi dia yang tidak suka

~ antara …. dan
~ tidak …, tetapi
~ baik ….maupun …..
~ bukan …, melainkan …..



Pertemuan 3

Unsur Kalimat
Unsur kalimat adalah unsur sintaksis (jabatan kata/peran kata) yang terdiri dari:
- Subjek (S)
- Predikat (P)
- Objek (O)
- Pelengkap (Pel)
- Keterangan (Ket)




Kenapa kalimat (SPOPK) menjadi kajian dalam penulisan ilmiah?
• Melalui kalimatlah karya ilmiah atau gagasan ilmiah akan ditulis atau diinformasikan.
• Kalimat terdiri dari: huruf, kata, frasa (kelompok kata), tanda baca --> kadang tidak bermakna.
– contoh --> adakah maknanya?

• Kata dan frasa tidak mempunyai struktur dan tidak dapat mengungkapkan maksud dengan jelas, kecuali sebagai kalimat minor --> – contoh àtidak, tidak mau

SUBJEK
• Bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), semua hal, atau masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan.
• Subjek biasanya berisi:
– Kata/frasa benda -->
Meja direktur besar.
Ayahku sedang membuat program.

– Klaus -->
Yang berkumis tipis adalah kekasihku.

– Frasa verbal -->
Membangun sistem informasi akuntansi sangat mahal

KESIMPULAN àSubjek
• Subjek biasanya berisi Kata/frasa, klausa, frasa verbal.
• Dapat pula dikenali dengan cara memakai kata tanya siapa (yang), apa (yang) kepada PREDIKAT.
• Jika jawaban tidak logis maka tidak ada Subyek

– Contoh:
• Di sini melayani resep obat generik.
• Bagi siswa sekolah dilarang masuk.


PREDIKAT
• Predikat menyatakan :
– keadaan yang dilakukan oleh S
– Sifat, situasi, status, ciri atau jati diri S
– Jumlah sesuatu yang dimiliki S
• Bagian kalimat menghubungkan antar S dengan O dan K
• Dapat berupa kata/frasa berkelas verba, adjektifa, numeralia (kt. Bilangan), dan nomina (benda)


OBJEK
• Bagian kalimat yang melengkapi P.
• Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa.
– Nomina = buku
– Frasa Nomina = buku sejarah
– Klausa = buku sejarah pertempuran bangsa Melayu
• Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang memerlukan O
Contoh:
– Harmanto membuat …
– Sistem analisis merancang …
Membuat, merancang --> verba transitif -->P yang memerlukan O
• JikaP diisi oleh verba INTRANSITIF maka O tidak diperlukan.
• Sehingga kehadiran O dalam kalimat dikatakan TIDAK WAJIB HADIR.
Contoh:
– Nenek mandi.
– Ayah tidur.
– Tamunya pulang.
mandi, tidur, pulang --> tidak perlu O
Obyek dapat menjadi Subyek bila dipasifkan
– Harmanto menulis buku ini
Buku ini ditulis oleh Harmanto


KESIMPULAN PELENGKAP
• Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P.
• Letak Pelengkap umumnya di belakang P yang berupa verba.
• Seringkali kita dibuat bingung antara Pelengkap dan O.
• Pelengkap tidak dapat menjadi Subyek bila dipasifkan.
• Jika kalimat ada O maka biasanya Pel terletak setelah (di belakang) O.
• Pelengkap dapat pula diisi oleh frasa adjektiva dan frasa preposisional
– Frasa adjektiva = benar sekali, sudah tidak layak
– Frasa preposisional = di, ke, dari sampai, selama, sepanjang


KETERANGAN (Ket)
• Bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian kalimat yang lainnya.
• Unsur Ket dapat berfungsi untuk menerangkan S, P, O, dan Pel.
• Dimanakah posisi keterangan itu?
Bisa di awal, tengah, dan akhir kalimat.




PERTEMUAN 4

KALIMAT EFEKTIF 1
(kesepadanan, keparalelan, ketegasan)


DEFINISI dan CIRI KALIMAT EFEKTIF
• Kalimat efektif ialah kalimat yang benar, jelas, dan
mempunyai makna yang mudah dipahami oleh
pembaca secara tepat.

• Ciri-ciri kalimat efektif:
(1) kesepadanan/kepadanan struktur (kesatuan/koherensi),
(2) keparalelan/kesejajaran bentuk,
(3) ketegasan/penekanan kata,
(4) kehematan kata,
(5) kepaduan gagasan,
(6) kelogisan bahasa,
(7) Kevariasian


1. KESEPADANAN STRUKTUR BAHASA
• Kesepadanan ialah keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang digunakan.
• Kesepadanan kalimat dibangun melalui kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
• Kesatuan menunjuk bahwa dalam satu kalimat hendaknya hanya ada satu ide pokok.
• Satu ide pokok tidak diartikan sebagai ide tunggal, tetapi ide yang dapat dikembangkan ke dalam beberapa ide penjelas.


BEBERAPA CIRI KESEPADANAN
• Mempunyai struktur jelas.
• Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan tidak menggunakan kata depan: di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya yang ditempatkan di depan subjek.
• Tidak terdapat subjek ganda.
• Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.


2. KEPARALELAN ATAU KESEJAJARAN BENTUK
• Keparalelan atau kesejajaran bentuk adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat.
• Bila bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina.
• Demikian pula bila menggunakan bentuk-bentuk lain.


3. KETEGASAN ATAU PENEKANAN KATA
• Merupakan perlakuan khusus pada kata tertentu dalam kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan.
• Ada beberapa cara penekanan dalam kalimat:
1. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu pada awal kalimat
2. Melakukan pengulangan (repetisi)
3. Melakukan pengontrasan kata kunci
4. Menggunakan partikel penegas


~ Penekanan Kata :
1. Menempatkan kata yang ditonjolkan di awal kalimat.
~ Sumitro menjelaskan bahwa manusia mempunyai kecenderungan tidak puas.
~ Persoalan itu dapat diselesaikan dengan mudah.


2. Repetisi
– Saudara-saudara, kita tidak suka dibohongi, kita tidak suka ditipu, kita tidak suka dibodohi
– Pembangunan dilihat sebagai proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi, tidak hanya berdimensi ekonomi tapi juga dimensi politik, dimensi sosial, dan dimensi budaya


3. Pengontrasan kata kunci
– Informasi ini tidak bersifat sementara, tetapi bersifat tetap.
– Peserta kegiatan ini adalah laki-laki, bukan perempuan.


4. Partikel Penegas
– Andalah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu
– Meskipun hujan turun, Ia tetap bersemangat berangkat ke sekolah.



PERTEMUAN 5

KALIMAT EFEKTIF 2
~ KEHEMATAN KATA
~ KEPADUAN GAGASAN
~ KELOGISAN MAKNA

4. KEHEMATAN KATA
~ Kehematan adalah upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu.􀃆kata menjadi padat berisi.
~ Dapat dilakukan dengan cara:
~ Menghilangkan pengulangan subyek
~ Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata
~ Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat
~ Kehematan dengan tidak menjamakkan kata yang sudah jamak


Kehematan dengan tidak menjamakkan kata yang sudah jamak
~ Para tamu-tamu telah hadir.
~ Ia mengambil semua jeruk-jeruk yang masih ada di meja.

Mestinya…
• Para tamu telah hadir/Tamu-tamu telah hadir.
• - Ia mengambil semua jeruk yang masih ada di meja.
• - Ia mengambil jeruk-jeruk yang masih ada di meja.


5. KESATUAN GAGASAN
~ Kesatuan gagasan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat.
~ Contoh:
~ Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.


6. KELOGISAN
~ Kelogisan adalah terdapatnya arti kalimat yang logis/masuk akal dan penulisannya sesuai EYD.
~ Contoh:
~ Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki
~ Kepada ibu Intha, waktu dan tempat kami persilakan.
~ Jalur ini terhambat oleh iring-iringan jenazah.



Pertemuan 6


KEVARIASIAN
Variasi Kalimat
~ Dapat dilakukan dengan cara-cara:
1. Kalimat aktif Kalimat pasif
2. Stilistika
3. Elips atau Pelesapan
4. Penggabungan
5. Permutasian
6. Sinonim
7. Ekuatif
8. Meletakkan kata modal
9. Menggunakan Frasa


Kalimat aktif Kalimat pasif
~ Pengubahan dengan cara:
~ Obyek kalimat aktif menjadi subyek pada kalimat pasif dan subyek pada kalimat aktif menjadi pelengkap pada kalimat pasif. Predikat diisi oleh verba berawalan (me N-)

~ Pelengkap pada kalimat pasif menjadi subyek pada kalimat aktif, dan subyek menjadi Obyek. Predikat diisi oleh verba berawalan (di-)

Stilistika
~ Stilistika yaitu Predikat dan Obyek pada kalimat aktif
menjadi Subyek pada kalimat pasif.


Elips/Pelesapan
~ Pelesapan dilakukan pada bagian tertentu dalam suatu kalimat atau bagian itu diganti dengan
bentuk yang lebih pendek tanpa mengubah makna kalimat
Contoh :
~ Kamu uruslah lahan itu dengan baik!
~ Uruslah lahan itu dengan baik
~ Pengamatan terhadap teroris dilakukan selama dua bulan
~ Kegiatan itu dilakukan selama dua bulan


Penggabungan
~ Ide yang berkaitan erat dapat dinyatakan dalam kalimat majemuk.
Contoh:
~ Penyeleksian data dilakukan pada bulan pertama.
~ Pengolahan data dilakukan pada bulan berikutnya.
~ Penyeleksian dan pengolahan data dilakukan berturut-turut pada bulan pertama dan berikutnya.


Permutasian
~ Permutasian yaitu mengedepankan fungsi-fungsi sintaktis tertentu tanpa mengubah makna kalimat.
~ Fungsi sintaktis adalah unsur-unsur dalam kalimat yang menempati fungsi SPOPelK
~ Semakin banyak unsur faktorial pada suatu kalimat (mis. dalam kalimat majemuk), makin
banyak jumlah variasi kalimat
Contoh :
~ Iwan sedang bermain bola di sawah sedangkan Nani membantu ibu di dapur.
à Menjadi :
1. Iwan di sawah sedang bermain bola sedangkan Nani di dapur membantu ibu.
2. Di sawah, Iwan sedang bermain bola sedangkan Nani membantu ibu di dapur.
3. dst


Sinonim
~ Sinonim yaitu mengganti kata atau istilah tertentu dengan kata atau istilah lain yang mempunyai makna sama.
Contoh:
~ Hasil penelitian itu belum dapat dirasakan faedahnya oleh masyarakat.
~ Hasil penelitian itu belum dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


Ekuatif
~ Variasi Ekuatif dilakukan dengan cara mengubah status Predikat dan Obyek menjadi Subyek dengan menambah kata adalah.
Contoh :
~ Kondisi perekonomian sekarang menyebabkan banyak karyawan yang di-PHK.
~ Penyebab banyaknya karyawan yang di-PHK adalah kondisi perekonomian sekarang


Meletakkan kata modal
~ Kata modal untuk menyatakan kepastian: pasti, pernah, tentu, dst
Contoh:
~ Pernah ia mengatakan pada saya tentang hal itu.
~ Pasti Adi mau menolong Ibu tua itu.

~ Kata modal untuk menyatakan keragu-raguan: barangkali, kira-kira, tampaknya, rasanya, mungkin, dst
Contoh:
~ Sebenarnya Adi bukan anak yang bodoh.
~ Tampaknya hujan akan segera turun.

Menggunakan Frasa
~ Menurut para ahli bedah, sulit untuk menentukan diagnosa jika keluhan hanya berupa sakit perut.
~ Anak-anak yang kurang mendapat perhatian cenderung melakukan perbuatan yang tidak
diinginkan.